Damon dan Phytias


Oleh: Jansen H. Sinamo & Hendri Bun

Alkisah, di zaman Yunani kuno memerintah seorang raja bersama Dionisius. Di kerajaannya hidup sepasang sahabat yang terkenal karena kesehatian, kesepikiran, dan komitmen mereka: Damon dan Phytias namanya.

Suatu hari, tanpa sengaja Damon melakukan sebuah kesalahan fatal di sebuah gelanggang permainan. Akibatnya, dia harus dihukum mati. Namun, beberapa saat sebelum eksekusi, Phityas muncul.

”Yang mulia Raja Dionisius, ijinkanlah hamba memohon sesuatu buat Damon, sahabatku: Berikanlah kesempatan terakhir baginya melakukan sesuatu sebelum menemui ajalnya.”

Raja pun mengabulkannya. ”Baik, aku ijinkan. Hai Damon, apakah permintaan terakhirmu?”

”Terimakasih sahabatku Phytias, dan Raja Dionisius. Permintaan hamba adalah boleh kembali ke kampung dan rumahku untuk mencium anak-istriku dan berpamitan pada keluargaku.”

”Tetapi apa jaminannya?” tanya raja.

Phytias mengajukan diri. ”Baginda, selama Damon pergi, biarlah hamba yang menggantikannya sebagai tahanan. Apabila pada batas waktu yang ditentukan dia tidak muncul, hamba bersedia dihukum mati sebagai gantinya.”

Demikianlah Damon dilepaskan dan diberi waktu tiga hari untuk melaksanakan niatnya.

Raja dan khalayak ramai menunggu apakah Damon kembali sesuai dengan janjinya. Hari pertama lewat tanpa kabar. Hari kedua juga berlalu begitu saja.

Hari ketiga, masyarakat berbondong-bondong berkumpul di tempat eksekusi. Mereka penasaran sambil berharap cemas, apakah Damon memenuhi janjinya. Menjelang siang hari, kabar kehadiran Damon belum terdengar juga. Waktu terasa berlalu begitu cepat. Dan ketegangan meliputi semua orang yang berada di sana.

Menjelang sore, Damon tetap tidak muncul. Pada detik-detik menjelang eksekusi, raja pun berkata kepada Phytias. ”Tampaknya persahabatan kalian yang legendaris itu tidak terbukti. Dan kamu, Phytias yang malang, bersiaplah untuk mati karena sahabat yang setia yang kamu banggakan itu tidak sesetia seperti yang kamu kira.”

Namun saat pedang algojo hampir berkelebat, dari kejauhan terdengar suara orang berteriak. “Tunggu … tahan hukuman! Tunggu … tahan hukuman!”

Sontak semua yang hadir memalingkan muka ke arah suara tersebut. Pekik tidak percaya bercampur gumaman kagum memenuhi udara. ”Itu Damon … Dia kembali …”

“Maafkan hamba baginda. Hamba mengalami banyak sekali hambatan di perjalanan. Waktu melintasi selat, perahu hamba membentur karang hingga tenggelam. Saat melintasi hutan, sekelompok penyamun merampok hamba hingga terluka. Namun, hamba tetap berlari ke sini, dan syukurlah belum terlambat. Saudaraku Phytias, terimakasih atas kebaikanmu. Engkau telah mempertaruhkan nyawamu untukku. Sekarang, aku sudah di sini, dan siap untuk dihukum.”

Melihat hal tersebut, Raja Dionisius hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir. Hatinya tersentuh dan berkata, “Damon dan Phytias, ternyata benar apa yang kudengar selama ini tentang persahabatan kalian. Aku sangat menghormatinya. Sebagai penghargaan, maka kamu, Damon, aku ampuni dan lepaskan dari hukuman mati.”

“Terimakasih Baginda,” Damon dan Phytias serentak menjawab.

“Namun ada satu hal lagi. Bolehkah ke dalam persahabatan kalian berdua ditambahkan orang ketiga?” tanya sang raja.

Demikianlah Raja Dionisius kemudian menjadi sahabat Damon dan Phytias. Persahabatan mereka menjadi persahabatan segitiga yang melegenda di seantero dunia.

* * *

Etos 7 berbunyi: kerja adalah kehormatan, aku bekerja tekun penuh keunggulan. Dalam kisah ini, kita menemukan kualitas persahabatan Damon dan Phytias: komitmen, kesetiaan, dan kepercayaan yang total sehingga mampu menggetarkan sanubari masyarakat dan Raja Dionisius.

Apapun yang unggul, mulia, dan berkualitas tinggi selalu menarik rasa hormat dan kekaguman. Kalau kita mampu menerapkannya dalam hidup dan pekerjaan, di mana kita mampu membina hubungan dengan orang lain, pemasok, atau pelanggan, maka relasi tersebut akan menjadi penyelamat dan modal kita untuk berkembang.

Karena itu, jagalah kualitas persahabatan Anda, karena dengan demikian, hidup akan jauh lebih mudah dan sukses pun menjadi sangat mungkin diraih.

*) Kisah ini adalah salah satu kisah yang dicuplik dari buku “KAFE ETOS: 24 Kisah Renyah untuk Memperkuat Etos Kerja Unggul” Karya Jansen H. Sinamo bersama Hendri Bun, Terbitan Institut Darma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blognya Junet Irama,

%d blogger menyukai ini: